Kepala Karantina RI Dorong Ribuan Hektare Kebun Durian Parigi Moutong Segera Terdaftar Ekspor
- calendar_month Kam, 28 Mei 2026
- visibility 66
- comment 0 komentar

Ket: Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding saat kunker di Parimo (f-Pde)
PARIMO | Harian Sulawesi – Kepala Badan Karantina Indonesia (BKI) Abdul Kadir Karding melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026).
Kunjungan tersebut dipusatkan di PT. Sentra Pangan Sejahtera (SPS), Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, untuk membahas penguatan ekspor durian ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.
Dalam kunjungan itu, Abdul Kadir Karding didampingi Bupati Parigi Moutong Erwin Burase, Wakil Bupati Abdul Sahid, Ketua DPRD Alfres Tonggiroh, Wakil Ketua DPRD Sayutin Budianto, anggota DPRD Faisan Lelo Badja, Kapolres Parigi Moutong Hendrawan A. N., serta sejumlah pejabat lainnya.
Karding mengatakan, kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya terkait kesiapan ekspor durian asal Parigi Moutong ke berbagai negara.
Menurut dia, pemerintah saat ini terus melakukan negosiasi dengan General Administration of Customs China (GACC) untuk memperluas pasar ekspor durian Indonesia.
“Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah memiliki potensi durian yang sangat besar. Kami datang untuk memastikan bagaimana tata kelola kebun, rumah kemas, hingga proses ekspor bisa memenuhi standar internasional,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Karding juga meninjau langsung proses pengemasan durian di dalam perusahaan. Ia melihat secara rinci teknik packing durian yang akan diekspor ke China, sekaligus berdiskusi dengan para petani terkait kendala produksi dan pemasaran.
Dia katakan, Badan Karantina Indonesia memiliki peran penting menjaga pertahanan negara dari ancaman hama penyakit, virus, bakteri, maupun organisme pengganggu yang dapat merusak tanaman, hewan, dan perikanan.
Selain itu, lembaga tersebut juga berperan dalam mempercepat ekspor-impor guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menurut Karding, luas lahan durian di Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah saat ini baru mencapai sekitar 6.434 hektare.
Dari potensi tersebut, ekspor durian pada tahun lalu tercatat mencapai sekitar 6.035 ton dengan nilai ekonomi berkisar Rp404 miliar hingga Rp470 miliar per tahun.
Namun demikian, dia menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait registrasi kebun dan sertifikasi rumah kemas.
Apa lagi saat ini, baru sekitar 1.000 hektare kebun durian yang telah terdaftar untuk kebutuhan ekspor dari total 6.434 hektare lahan yang ada.
“Kebun durian harus terdaftar dan menerapkan prinsip Good Agricultural Practices agar bisa ditelusuri asalnya. Rumah kemas juga wajib tersertifikasi dan terdaftar di GACC Tiongkok. Ini menjadi syarat utama agar ekspor berjalan lancar,” katanya.
Karding menambahkan, perawatan pohon durian juga sangat menentukan produktivitas petani.
Menurutnya, pohon yang tidak dirawat hanya menghasilkan nilai ekonomi kecil, sedangkan pohon yang dirawat dengan baik dapat menghasilkan hingga ratusan kilogram buah per pohon dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi, pungkasnya dalam penyampaian dihadapan puluhan petani durian montong. (**)
- Penulis: Sumardin (Pde)

Saat ini belum ada komentar