Ambisi Jadi Raja Durian Dunia, Sulteng Bidik 100.000 Hektar Kebun dan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja
- calendar_month Sel, 2 Jun 2026
- visibility 62
- comment 0 komentar

PARIGI | Harian Sulawesi – Cita-cita Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi “raja durian dunia” dinilai bukan sekadar slogan. Untuk mewujudkan target tersebut, Sulteng disebut membutuhkan sedikitnya 100.000 hektar perkebunan durian yang dikelola secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ketua Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) Parigi Moutong, Hengky Idrus, SP., M.Si., mengatakan pernyataan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat menerima kunjungan Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, beberapa waktu lalu merupakan sinyal kuat bahwa sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
“Untuk menjadi raja durian dunia, Sulawesi Tengah harus memiliki minimal sekitar 100.000 hektar perkebunan durian, baik yang dikelola petani rakyat, perusahaan swasta maupun perusahaan daerah,” kata Hengky, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, target tersebut bukan sesuatu yang mustahil jika menjadi agenda bersama pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di seluruh Sulawesi Tengah.
Menurut Hengky, kebutuhan lahan seluas 100.000 hektar dapat dibagi secara proporsional sesuai ketersediaan lahan di 12 kabupaten.
Selain itu, petani juga dapat didorong menanam durian pada lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kalau program ini dijalankan bersama-sama, saya yakin bisa terealisasi. Petani juga perlu digerakkan untuk menanam durian di lahan mereka yang belum diolah,” ujarnya.
Tantang Dominasi Thailand
Hengky optimistis Sulawesi Tengah mampu bersaing dengan negara-negara eksportir durian terbesar dunia, termasuk Thailand, apabila target luasan kebun tersebut tercapai.
Dirinya memperkirakan setiap hektar kebun durian rata-rata mampu menghasilkan sekitar 10 ton buah per tahun. Bahkan, dengan perawatan yang baik, produktivitasnya dapat mencapai 18 ton per hektar.
“Bila Sulawesi Tengah berhasil membuka dan mengelola 100.000 hektar perkebunan durian, Insya Allah kita bisa mengalahkan Thailand yang selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir durian terbesar dunia,” katanya.
Potensi Serap 30.000 Tenaga Kerja
Selain berpotensi meningkatkan nilai ekspor, pengembangan perkebunan durian skala besar juga diyakini mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Hengky menjelaskan, pengelolaan 100.000 hektar kebun durian berbasis agroindustri setidaknya membutuhkan sekitar 100 unit packing house atau rumah kemas.
Setiap packing house diperkirakan mempekerjakan sekitar 300 pekerja.
“Artinya, khusus di sektor packing house saja bisa menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja. Belum termasuk pekerja di bidang pemeliharaan kebun, pemetikan buah, hingga sektor pendukung lainnya,” jelasnya.
Hengky bilang, aktivitas ekonomi yang tercipta dari industri durian juga akan menggerakkan usaha mikro dan kecil di desa-desa sekitar kawasan perkebunan, mulai dari penyediaan makanan, minuman hingga kebutuhan jasa lainnya.
Luas Kebun Saat Ini Baru 36.000 Hektar
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulawesi Tengah, luas perkebunan durian di daerah tersebut saat ini sekitar 36.000 hektar.
Namun dari total luasan itu, baru sekitar 12.000 hektar yang telah memasuki masa produksi.
“Khusus Kabupaten Parigi Moutong yang pernah kami data, luas kebun durian sekitar 1.114 hektar,” kata Hengky.
Ekspor Durian Beku Tembus Rp 490 Miliar
Prospek pengembangan durian Sulawesi Tengah semakin terbuka setelah produk durian beku dari daerah itu berhasil menembus pasar internasional, khususnya Tiongkok.
Data hingga pekan kedua Mei 2026 menunjukkan pengusaha Sulawesi Tengah telah mengekspor durian beku sebanyak 6.615 ton atau setara 245 kontainer.
Nilai ekspor tersebut mencapai sekitar Rp 490 miliar.
Capaian itu dinilai menjadi modal penting bagi Sulawesi Tengah untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra produksi dan ekspor durian nasional, sekaligus mewujudkan ambisi menjadi pusat industri durian terbesar di dunia. (**)
- Penulis: Sumardin (Pde)

Saat ini belum ada komentar