Warga Tombi Pertanyakan Penertiban PETI, Dugaan Kebocoran Informasi Mencuat
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar

PARIMO | 27/6/2026 – Warga Desa Tombi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mempertanyakan efektivitas penertiban aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang selama ini dilakukan aparat.
Mereka menilai operasi penindakan kerap berakhir tanpa hasil karena lokasi tambang diduga telah dikosongkan sebelum petugas tiba.
Sejumlah warga menduga adanya kebocoran informasi yang membuat para pelaku lebih dulu memindahkan alat berat maupun menghentikan sementara aktivitas penambangan.
“Kami bingung kenapa tiap mau ada penertiban, alat berat sudah hilang atau disembunyikan. Habis itu, beberapa hari kemudian kerja lagi. Pertanyaannya, siapa yang bocorkan?” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut warga, informasi mengenai rencana penertiban bahkan sudah lebih dahulu beredar luas, tidak hanya di kalangan penambang, tetapi juga diketahui masyarakat.
“Biasanya sebelum tim turun, kabar penertiban sudah menyebar. Jadi saat petugas datang, lokasi sudah bersih,” kata sumber.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya kebocoran informasi dari internal pihak yang mengetahui rencana operasi. Warga menilai pola penertiban yang terus berulang membuat penegakan hukum terkesan hanya menjadi formalitas dan belum mampu menyentuh aktor utama di balik aktivitas tambang ilegal.
“Kalau begini terus, wajar kalau kami menduga penertiban cuma untuk menggugurkan kewajiban. Tidak pernah ada efek jera,” lanjutnya.
Sumber lain menilai pola penindakan seperti itu justru membuat para pelaku, terutama pemodal, semakin berani menjalankan aktivitas PETI.
“Kalau gaya penertiban seperti ini terus, tidak akan ada efek jera. Pelaku justru semakin menjadi. Para pelaku, terutama pemodal, seperti tidak ada rasa takutnya. Masa negara kalah dengan mereka?” ujarnya.
Selain menyoroti dugaan kebocoran informasi, warga juga mengaku khawatir terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Aktivitas PETI disebut mulai merusak aliran sungai dan lahan di sekitar lokasi tambang, sementara penindakan dinilai belum memberikan perubahan berarti.
Warga mendesak aparat penegak hukum melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penertiban, termasuk menelusuri kemungkinan adanya oknum yang membocorkan informasi operasi.
“Kalau memang serius mau hentikan PETI, jangan kasih ruang lagi. Tangkap pelakunya, amankan alatnya, dan bongkar siapa yang membekingi,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulawesi Tengah, Kombes Pol Djoko Wienartono, yang dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait dugaan tersebut. (**)
- Penulis: TIM
- Editor: Sumardin (Pde)

Saat ini belum ada komentar