Diduga Tercemar PETI, Sungai Tapoya Keruh dan Dangkal, Warga Desak Pemodal Diburu
- calendar_month Ming, 21 Jun 2026
- visibility 52
- comment 0 komentar

PARIMO | Harian Sulawesi – Saat mengkhawatirkan bagi warga sekitar aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Tombi memang tidak terelakan lagi di Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).
Itupun mereka hanya pasrah saja oleh hadirnya ‘permainan’ pemodal PETI yang sudah tidak takut dengan gertakan sambel dari tim Satgas PLH karena ‘hanya’ manis kata di depan wartawan, tapi dibelakang bermain mata.
Hal seperti inilah membuat warga petani mulai ‘ketakutan’ akibat dampak buruk yang serius terhadap kondisi Sungai Tapoya yang mulai tercemar dan membahayakan.
Timbul pertanyaaan…siapakah pelaku PETI yang bermain di belakang para pejabat desa di lokasi PETI?
Akibatnya sejumlah warga mulai berani bersuara akibat terjadinya perubahan warna air sungai yang menjadi keruh kecokelatan hingga indikasi pendangkalan yang kian terlihat di sejumlah titik aliran.
Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi, air Sungai Tapoya tampak membawa material lumpur dengan tingkat sedimentasi yang diduga cukup tinggi.
Selain itu, badan sungai terlihat mengalami pendangkalan yang ditandai dengan berkurangnya kedalaman aliran di beberapa bagian.
Bahkan susunan batu di tepian sungai yang berfungsi memperkuat bantaran kini tampak menahan aliran air yang tidak lagi jernih. Dasar sungai juga diduga tertutup endapan material halus yang terbawa arus.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, kondisi Sungai Tapoya mulai berubah sejak aktivitas PETI marak di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS).
“Sejak ada PETI, sungai jadi cepat dangkal. Airnya juga berubah jadi keruh seperti ini,” ujar warga kepada wartawan, Minggu (21/6/2026).
Menurut dia, aktivitas tambang ilegal yang berlangsung di kawasan DAS diduga menjadi penyebab utama menurunnya kualitas air sungai.
Sedangkan material hasil pengerukan disebut-sebut langsung masuk ke aliran sungai tanpa pengelolaan yang memadai.
“Bagaimana air sungai tidak keruh dan mengalami kedangkalan kalau para penambang emas ilegal berada di DAS,” katanya.
Warga menilai dampak yang ditimbulkan tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi merugikan masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, pendangkalan sungai dikhawatirkan meningkatkan risiko banjir ketika debit air meningkat, terutama saat musim hujan.
“Kalau dibiarkan, ini bisa membahayakan warga. Sungai tidak lagi berfungsi normal,” tambahnya.
Karena itu, masyarakat meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong segera mengambil langkah konkret untuk menertibkan aktivitas PETI sekaligus melakukan upaya pemulihan ekosistem sungai yang terdampak.
Tak hanya itu, aparat penegak hukum (APH) juga didesak agar tidak berhenti pada penindakan terhadap pekerja di lapangan, tetapi menelusuri dan menindak para pemodal yang diduga berada di balik maraknya aktivitas tambang ilegal tersebut.
“Jangan hanya yang di bawah ditindak, tapi pemodalnya juga harus ditangkap. Itu kunci supaya aktivitas PETI benar-benar berhenti,” tegas warga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas PETI di Desa Tombi juga diduga telah merambah kawasan hutan, sebagaimana data koordinat yang diperoleh, sejumlah titik tambang ilegal disebut berada di dalam kawasan Hutan Lindung (HL).
Warga berharap langkah tegas dan terukur dari pemerintah maupun aparat penegak hukum dapat segera dilakukan guna mencegah kerusakan Sungai Tapoya semakin meluas dan menjaga keselamatan masyarakat di sekitar wilayah tersebut. (**)
- Penulis: Sumardin (Pde)
- Editor: Adelia Safitri
- Sumber: Warga sekitar wilayah PETI

Saat ini belum ada komentar