Ekspor Durian Sulteng ke Tiongkok Capai 7.052 Ton, KADIN Dorong Standar Industri dan Hilirisasi
- calendar_month Ming, 26 Jul 2026
- visibility 51
- comment 0 komentar

Foto: istimewa
CHENGDU, Tiongkok – Meningkatnya ekspor durian Sulawesi Tengah ke Republik Rakyat Tiongkok menjadi peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga awal tahun 2026, realisasi ekspor telah mencapai 7.052 ton, membuka ruang yang semakin luas bagi masuknya investasi, pengolahan hasil, serta peningkatan kesejahteraan petani.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menilai capaian tersebut harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat daya saing komoditas unggulan daerah. Hal itu dapat dilakukan lewat peningkatan kualitas, penerapan standar internasional, serta penguatan industri hilir durian.
Menurutnya, pasar global tidak sekadar membutuhkan pasokan yang berkelanjutan, melainkan sangat mengutamakan mutu, keamanan pangan, sistem ketertelusuran produk, serta penerapan teknologi modern di sepanjang rantai pasok.
“Semakin besar peluang ekspor yang terbuka, semakin besar pula tanggung jawab kita menjaga kualitas. Investasi akan hadir apabila kita mampu menghadirkan produk yang konsisten, berkualitas, aman dikonsumsi, dan memenuhi standar internasional,” ujar Faradiba.
Sebagai wujud komitmen membangun ekosistem durian yang berdaya saing global, pada 22 Juli 2026 di Distrik Qingbaijiang, Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, Faradiba yang mewakili Kelompok Kerja Pengembangan Durian Sulawesi Tengah menandatangani Perjanjian Kerja Sama Penyusunan Standar Industri Durian dengan Chengdu Huishi Technology Co., Ltd.
Kerja sama ini bertujuan menyusun standar industri yang mengacu pada praktik dan teknologi modern, mencakup klasifikasi mutu buah, teknologi pengujian tanpa merusak, sistem pengawetan pascapanen, pengembangan hilirisasi, hingga sistem ketertelusuran penuh dengan kode identitas pada setiap produk.
Kedua belah pihak juga akan melakukan pengambilan sampel dari sentra produksi, membangun basis data bersama, serta melakukan uji coba dan verifikasi di Indonesia maupun Tiongkok sebelum standar tersebut diberlakukan secara luas.
“Langkah ini penting agar durian Sulawesi Tengah tidak hanya mampu menembus pasar internasional, tetapi memiliki standar mutu yang diakui, didukung teknologi modern, dan memberi kepastian kualitas bagi konsumen dunia,” tambahnya. Faradiba menegaskan penggunaan pupuk, pestisida, maupun sarana produksi pertanian lainnya harus sesuai aturan agar tidak menimbulkan residu yang dapat menghambat akses pasar dan merusak kepercayaan pembeli.
Ia berharap keberhasilan ekspor menjadi pintu masuk berkembangnya industri pengolahan, pembangunan rumah kemasan modern, penerapan teknologi pascapanen, serta terbukanya lapangan kerja baru. “Ekspor bukan sekadar menjual buah. Yang lebih penting adalah membangun standar, mendatangkan investasi, meningkatkan nilai tambah, dan memastikan petani merasakan manfaat ekonomi yang lebih besar. Semua itu dimulai dari menjaga kualitas sejak di kebun,” tegasnya.
KADIN Parigi Moutong mengajak seluruh petani, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk bersinergi menerapkan budidaya yang baik, menjaga kualitas dari hulu ke hilir, serta mendukung standar industri yang mengukuhkan posisi durian Sulawesi Tengah sebagai komoditas andalan Indonesia di pasar Tiongkok dan dunia.(**)
- Penulis: Sumardin (Pde)

Saat ini belum ada komentar