Beras Bulog di Tolitoli Diduga Menguning dan Berdebu, Pemolesan Jadi Sorotan
- calendar_month Sab, 8 Agu 2026
- visibility 676
- comment 0 komentar

Foto: Beras produksi cv alam sejahtera produksi tahun 2025 yang siap dipoles dipabrik penggilingan milik Nurdin di desa Tinigi Kecamatan Galang Tolitoli (f-ist)
TOLITOLI, Sulteng – Ratusan ton beras yang dipindahkan dari gudang Bulog Sidrap ke gudang Bulog di Tolitoli, Sulawesi Tengah, ditengarai mengalami perubahan kondisi setelah tersimpan lebih dari satu tahun.
Beras produksi April 2025 yang diproduksi CV Alam Sejahtera, Sidrap, menurut laporan warga yang tidak ingin dipublikasikan namanya menyebut bahwa kualitas beras menurun dan terlihat menguning serta berdebu.
Kondisi tersebut kemudian membuat pihak Bulog Cabang Tolitoli melakukan pemolesan ulang atau reproduksi terhadap beras sebelum kembali disalurkan.

Kepala Cabang Bulog Tolitoli Aryo (kemeja batik hitam) saat ditemui wartawan dikantornya.
Mendengar hal tersebut, pihak Bulog membantah adanya beras yang sudah menguning dan dipoles ulang. Aryo dari Bulog Tolitoli mengatakan pemolesan dilakukan terhadap beras yang berdebu akibat terlalu lama disimpan di gudang.
“Tidak ada beras menguning kita poles, tapi hanya beras berdebu akibat sudah setahun lebih tersimpan dalam gudang,” kata Aryo.
Selain sekitar 350 ton beras yang disebut berasal dari gudang Bulog Palu dan dipoles di pabrik penggilingan milik Nurdin, proses pemolesan juga ditemukan di pabrik mitra Bulog di Desa Lalos milik H Karya.
Pihak Bulog menyebut beras yang diproses di lokasi tersebut hanya sekitar dua ton beras LN asal Vietnam sebagai sampel untuk mengetahui kelayakan pemolesan.
Namun, berdasarkan keterangan H Karya di lapangan, jumlah beras yang sementara diterimanya mencapai sekitar enam ton. Hingga kini, persetujuan dari Bulog pusat disebut belum diterima.
Perbedaan keterangan tersebut menjadi sorotan karena informasi yang disampaikan pihak Bulog kepada wartawan tidak sepenuhnya sama dengan temuan di lapangan.
Bulog sebelumnya menyebut hanya terdapat satu lokasi pemolesan, sementara hasil penelusuran wartawan media ini menunjukkan adanya dua lokasi. Bahkan beras yang sudah dipoles ini informasinya akan dibagikan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan pangan yang akan disalurkan saat 17 Agustus 2026.
Justru dengan adanya perbedaan data mengenai jumlah beras yang dipoles tersebut telah memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan transparansi pengelolaan beras yang telah lama tersimpan di gudang Bulog. (**)
- Penulis: Mahdi Rumi

Saat ini belum ada komentar